JAKARTA— Bupati Sumbawa, H Syarafuddin Jarot dan Wakil Ketua (Waka) I DPRD Sumbawa H.Berlian Rayes ikuti pertemuan strategis di Jakarta, Jumat (14/2)2026. Sejumlah pejabat Sumbawa juga hadir. Diantaranya, Kepala Bapperida Kabupaten Sumbawa Dedy Heriwibowo. Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat, Julmansyah ikut membidani pertemuan tersebut. Turut hadir mendampingi, Direktur Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Dr. Tri Joko Heryanto, Direktur The Asia Foundation Franz Siahaan beserta tim, Akademisi Universitas Mataram Dr. Andi Khairil Ikhsan, Direktur KONSEPSI Dr. M. Taqiyuddin, serta Tim Ford Foundation.

Pertemuan tersebut bertujuan membangun komitmen. Mewujudkan pembangunan berkelanjutan berbasis kelestarian lingkungan di Kabupaten Sumbawa. Sebab, selama ini konsen pemerintah daerah adalah membuat Sumbawa hijau. Sehingga tagline yang disosialisasikan adalah “Sumbawa Hijau Lestari”. Pertemuan tersebut melibatkan Mitra Nasional dan Internasional.
Diskusi berlangsung dinamis dan konstruktif. Direktur Julmansyah menegaskan diperlukan sinergi yang lebih kuat. Ini bertujuan untuk mempercepat upaya penyelamatan dan rehabilitasi hutan serta lahan. Ia menilai Pemerintah Sumbawa sudah menginisiasi kegiatan tersebut. Bahkan terkesan masif. “Ke depan, sinergi program dan dukungan multipihak menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan rehabilitasi hutan dan penguatan tata kelola tenurial,” ujar Julmansyah.
Menurut Julmansyah, pihaknya berupaya merajut para pihak agar pembiayaan non APBN di saat efesiensi dan ruang fiskal terbatas. Bahkan kata Julmansyah beberapa lembaga filantropi lain juga akan ikut dalam konsorsium Sumbawa Hijau Lestari ini. Bahkan, kata putra daerah Kabupaten Sumbawa ini, Balai Perhutanan Sosial Denpasar sebagai UPT Kementerian Kehutanan juga akan berkontribusi seluasnya kurang lebih 500 Ha. Ini merupakan program Fasilitasi Agroforestry Pangan dan Energi (FAPE) Perhutanan Sosial.
Di tempat yang sama H Syarafuddin Jarot menegaskan Program Sumbawa Hijau Lestari bukan sekadar agenda lingkungan. Itu merupakan strategi pembangunan daerah yang menyatukan banyak aspek. Ekologi, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Rehabilitasi hutan, penguatan perhutanan sosial, serta penyelesaian konflik tenurial menjadi bagian integral. Semuanya bermuara menjaga daya dukung lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan.
Para peserta diskusi menunjukkan antusiasme tinggi dan menyampaikan berbagai peluang dukungan, baik dalam bentuk program teknis, pendampingan kelembagaan, penguatan kapasitas. Bagaimana akses pendanaan melalui berbagai skema kehutanan dan pembiayaan lingkungan yang relevan, hal yang tidak kalah penting. Skema pendanaan dari BPDLH, dukungan teknis dari lembaga mitra, serta penguatan riset dan advokasi kebijakan menjadi bagian dari opsi kolaborasi yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.
Hasil pertemuan ini menghasilkan kesepahaman awal mengenai pola kolaborasi multipihak yang akan ditindaklanjuti secara operasional di Kabupaten Sumbawa. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan kritis. Kemudian memperkuat pengakuan hutan adat dan perhutanan sosial. Tidak kalah penting, membangun model tata kelola lingkungan yang inklusif dan berkeadilan.
Menanggapi inisiasi ini, Dr. Tri Joko Direktur BPDLH memberikan dukungan dengan menjelaskan windows yang ada di BPDLH. Hal yang sama juga disampaikan oleh The Asia Foundation. Lrmbaga filantropi ini akan membantu bersama KONSESPI NTB dan Bappeda Sumbawa. Diharapkan ada pilot Project dan memastikan Sumbawa Hijau Lestari terimplementasi.
Wakil Ketua DPRD Sumbawa, H. Berlian Rayes, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Direktur Julmansyah. Menurutnya, upaya dalam menggalang dukungan para pihak untuk mendukung semangat dan langkah bupati Sumbawa yang telah ditunjukan secara masif di lapangan. DPRD Sumbawa akan mendukung langkah-langkah yang ditempuh Bupati Sumbawa dalam mewujudkan Sumbawa Hijau Lestari.
Kepala Bapperida, Dedy Heriwibowo akan mengagendakan tindak-lanjut pertemuan ini untuk mengkonsolidasikan berbagai gerakan bersama. Nanti akan melibatkan pemerintah, legislatif, lembaga pendanaan, akademisi, organisasi masyarakat sipil. Sejumlah elemen komunitas masyarakat dalam menjaga warisan ekologis Sumbawa juga akan dilobatkan. ” Ini penting, bagi generasi mendatang. Melalui kolaborasi yang terstruktur dan berkelanjutan sesuai visi Kabupaten Sumbawa yang unggul, maju dan sejahtera,”jelasnya. (bia)
